Merangkai Pengalaman Emas Menuju Penerjemah Resmi dan Terdaftar

jasa penerjemah

Penerjemah yang baik adalah seorang yang tidak pernah merasa cukup berpengalaman untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Hanya setelah menguasai satu bahasa lagi, satu gelar, satu tahun lebih lama di luar negeri, lima puluh atau enam puluh buku lagi, baru ia merasa siap untuk mulai bekerja dengan sebaik-baiknya. Namun, saat itu tidak pernah tiba, bukan karena ia tidak cakap atau kurang pengalaman, juga bukan karena hasil pekerjaannya di bawah standar, melainkan karena seorang penerjemah yang baik selalu ingin tahu lebih banyak, ingin lebih berpengalaman, dan tidak pernah benar-benar puas dengan pekerjaan yang sudah diselesaikannya.

Harapan harapannya selalu berada selangkah atau tiga langkah di depan, dan hal itu membuat dirinya tidak tenang dan terus-menerus mencari lebih banyak lagi pengalaman.

Pengalaman hidup terkadang memperkuat kebiasaan penerjemah. Kehidupan sosial memiliki sifat teratur yang memungkinkan beberapa aspek dari kehidupan kita da pat diperkirakan. Kunjungan ke sebuah kota yang sudah beberapa kali kita datangi akan memperkuat kenangan-kenangan kita tentang kota itu: hotel favorit, restoran atau kafe favorit, taman favorit, daerah-daerah yang perlu dihindari, dan lain lain.

Komunikasi di kantor jasa penerjemah, kami selalu menggunakan bahasa inggris sebagai satu-satunya alat komunikasi antar sesama karyawan. Setiap usaha untuk berkomunikasi dalam bahasa asing yang kita pahami dengan baik, juga akan memperkuat memori kita tentang bahasa tersebut: kata-kata yang familiar mempunyai arti yang kurang lebih sama dengan arti yang kita ingat sebelumnya, struktur sintaksisnya berfungsi sama, frasa-frasa lazim yang digunakan dalam situasi-situasi yang sama dengan situasi-situasi yang pernah kita alami sebelumnya.

Namun, pengalaman selalu mempunyai kejutan bagi kita. Kita mengalami saat-saat buruk ketika mendapati hotel atau restoran favorit kita sudah dirobohkan, atau berganti pemilik dan penampilannya sama sekali baru. Kata dan frasa yang sudah akrab dipakai dengan cara yang berbeda, sehingga kita terheran-heran bagaimana kita pernah merasa yakin sudah menguasai bahasa itu dengan fasih.

Jika segala sesuatu selalu berubah, tentu saja kita akan mendapatinya tak mungkin lagi difungsikan. Tak seorang pun bisa menjadi penunjuk arah bagi yang lain, karena tidak ada sesuatu hal yang bisa bertahan cukup lama sehingga semua orang bisa “tahu” di mana tempatnya dan bagaimana bentuknya.

Akibatnya, komunikasi tidak mungkin akan berlangsung. Tetapi jika tidak ada perubahan apapun, kebiasaan kita akan menjadi pengekang. Kita akan terkungkung da lam serangkaian pengalaman hidup yang kaku.

Harapan dan perkiraan kita didasarkan pada pengalaman-peng alaman itu, dan kita pun berhenti belajar. Kebanyakan dari kita hanya berusaha mengerjakan hal-hal yang ada dalam ruang lingkup kehidupan kita saja, untuk menjadi “pengikut kebiasaan” (biasanya frasa ini tidak dipakai se bagai cemoohan), sehingga pengendalian kita terhadap lingkungan kita pun terbatas.

Namun, orang yang seluruh hidupnya dikuasai oleh kontrol “kebiasaan” ini adalah orang yang amat tidak per caya diri. Hanya orang yang luar biasa sukses saja yang mampu mencapai segala sesuatu, termasuk menyerupai kontrol “kebiasaan” itu dalam kenyataan. Kita yang berada di luar kedua kelompok itu, untungnya, terpaksa menanggalkan kebiasaan kita melalui ribuan cara sederhana setiap harinya.

Dengan begitu, kita dipaksa memikirkan kembali, menyusun lagi, mengubah pemahaman dan harapan kita sesuai dengan pengalaman yang baru, dan perlahan-lahan, terkadang dengan menyakitkan, mulai membangun lagi kebiasaan yang dihentikan selama perubahan situasi itu.

Penulis bertahun-tahun bekerja di kantor jasa penerjemah di jakarta, yakni JITS jasa penerjemah tersumpah. Dan saat ini penulis menangani tahap QC (quality control) untuk semua dokumen yang bertopik hukum. Sesekali penulis hanya menanyakan kepada penerjemah pemula, bagian mana yang agak membingungkan dan susah diterjemahkan. Berikutnya dikoreksi dan kemudian dicetak. Tetapi pengalaman itu semua tidak dapat mewakili semua pengetahuan yang sudah tersusun sejak lama.

 

Leave a Comment