Tunjangan vs Kompensasi vs Insentif
Pada dasarnya, setiap orang bekerja dengan harapan terdasar, yakni mendapatkan imbalan/ kompensasi atas usaha yang sudah mereka keluarkan untuk menggapai tujuan organisasi dan tujuan mereka sendiri. Namun imbalan yang diterima bukan hanya gaji, biasanya ada komponen lain yang diberikan sebagai perangsang dan program kesejahteraan (employee benefit and services) yang mampu menaikkan produktivitas. Misalnya saja insentif dan tunjangan.
Insentif di sini berperan sebagai wujud kompensasi yang berkaitan langsung dengan motivasi. Insentif diberikan bergantung pada prestasi, maka secara langsung akan merubah karyawan untuk membuahkan prestasi lebih banyak dan bekerja lebih dari yang seharusnya.
Sementara itu, tunjangan merupakan setiap tambahan benefit yang ditawarkan terhadap pekerja atau karyawan. Umumnya tunjangan diberikan secara rutin. Jadi, bisa diartikan bahwa upah/ gaji yang diterima setiap bulan merupakan kompensasi.
Kompensasi ini biasanya akan dilengkapi dengan tunjangan yang berbeda-beda sesuai jabatan, kalau penggunaan kendaraan perusahaan, makan siang gratis, bunga pinjam4n rendah atau tanpa bunga, jasa kesehatan, perlindungan liburan, dan skema pembelian saham.
Terakhir, kalau Anda berprestasi maka biasanya Anda akan mendapatkan insentif yang berupa tambahan sesuai standar perlindungan insentif perusahaan.
Nah, pada arikel kali ini kami akan mengkaji soal tunjangan. Karena tunjangan biasanya diberikan rutin pada setiap jabatan tertentu, maka tunjangan mesti diperjuangkan. Jadi, pas HRD bertanya, “Berapa tunjangan yang Anda harapkan?” kita mesti membayangkan jawabannya dengan matang.
Ingat, nilai ini akan Anda terima setiap bulannya saat pemberian gaji. Semakin besar tunjangan maka jadi besar pula nilai yang Anda terima setiap bulan. Jadi jawaban Anda di sini menentukan titik awal nilai gaji yang akan diterima.
Nah, sebelum Anda pusing membayangkan jawabannya kami sudah mempersiapkan panduannya nih. Berikut tips langkah menjawab pertanyaan HRD soal berapa tunjangan yang diharapkan.
“Berapa Tunjangan yang Diharapkan?”
Tentunya menjawab pertanyaan “Berapa Tunjangan yang Diharapkan?” tidak bisa disepelekan. Anda mesti membayangkan dengan matang sehingga mampu menjawab dengan nilai yang pantas tetapi tidak terkesan serakah.
1. Ketahui standar tunjangan yang ada
Pertama-tama, Anda mesti mencari tahu soal standar tunjangan di jabatan terkait. Anda bisa mencarinya via online atau via kerabat yang sudah bekerja dengan jabatan yang serupa.
Anda tidak mesti menanyakan berapa tunjangan mereka jika itu agak tabu untuk dibicarakan, cukup minta arahan berapa tunjangan yang pantas Anda dapatkan untuk posisi di perusahaan tersebut.
2. Memikirkan kesesuaiannya dengan kebutuhan Anda
Setelah tahu estimasi tunjangan yang akan Anda sebutkan, Anda bisa mempertimbangkannya sesuai kebutuhan.
Interview coach Barry Dexler menganjurkan kita untuk pertimbangkan baik-baik semuanya, jadi dari berapa yang akan Anda dapatkan, apakah sesuai dengan posisinya, dan apa saja yang akan Anda dapatkan di perusahaan tersebut. Lalu pastikan nilai berwujud range yang menurut Anda sesuai dengan kebutuhan Anda.
3. Bersikap fleksibel
Perlu Anda ketahui, perekrut akan curiga menentukan Anda jika Anda memberikan nilai khusus dilengkapi banyak tambahan lainnya.
“Berhubung menentukan bonus tidak mudah, jadi kita bisa kasih kisaran yang fleksibel saat wawancara. Tapi jangan pernah bilang “saya menerima berapa saja yang ditawarkan,” ujar Dexler.
Sebagai contoh, Anda bisa memberikan jawaban seperti ini:
“Saya fleksibel dan terbuka untuk berdiskusi paket kompensasi yang pantas. Namun tunjangan paling akhir saya sekitar Rp 2 juta sampai Rp 3,5 juta.”
Ditambah lagi, Anda mesti memberikan alasan mengapa berhak atas nilai tersebut. Anda bisa menjelaskan bahwa Anda sebetulnya memenuhi kualifikasi untuk menjalankan jabatan tersebut dengan tunjangan yang diberikan.
4. Sebaiknya jawab saat perusahaan sudah percaya bersama Anda
Menurut Dexler, sistem negosiasi sebaiknya tidak dilakukan pas wawancara kerja.
“Perekrut malas dengan pelamar yang menegosiasi gaji/tunjangan saat masih wawancara,” Drexler mengingatkan. “Kamu bisa melakukannya jika perekrut sudah mantap denganmu dan memberikan awaran kerja.”
Jadi bagaimana saat ditanya pertanyaan selanjutnya pas wawancara kerja?
Alyssa Best, seorang pembimbing dalam karier di Washington D.C menganjurkan untuk menjelaskan hal seperti berikut ini:
“Itu merupakan pertanyaan yang menarik, tetapi saat ini aku lebih tertarik untuk mengetahui lebih banyak mengenai posisi yang aku lamar dan berdiskusi bagaimana caranya sehingga aku mampu jadi sebuah aset dalam tim Anda.”
Walaupun jawaban tersebut bukanlah sebuah langkah untuk menjauhkan pertanyaan tersebut secara efektif, tetapi Anda membuktikan kepada HRD bahwa Anda melamar pekerjaan tersebut bukan gara-gara uang.